Sunday, July 8, 2012

Remember August ( Part 35 : Jealously. Lost. Be Strong )


***

“we better, make in this cafe, this is a good one, with a garden view” ucap Greyson, menunjuk satu profile cafe, August menaikan kacamatanya, lalu meneliti, dan mengangguk pelan.

“hem, so, Lego Cafe?” tanya August, Greyson mengangguk. August kembali menulis di kertas yang sudah penuh coret-coretan ini.

“are you serious? The capicity is only like two hundred persons?” tanya August, yang kembali meneliti cafe tersebut. Greyson menengok ke arah laptop August, dan melihat artikel tentang cafe mereka. Greyson menghembuskan nafasnya.

“how about this?” tanya August, memberikan sebuah tempat, kebun, luas, dengan dikelilingi, kolam kecil.

“garden party?” tanya Greyson. August menaikkan pundaknya. Lalu segera meneliti tempat itu, dengan teliti.

“this, i mean, the pond, will be fill with the candle, and there are like a fairy lights, arount these place, and lanterns above, hows that?” tanya August, Greyson berfikir, lalu mengangguk setuju. August langsung mengangguk, dan mulai mencatat konsep-konsep dari pestanya.

“who’ll you invite from Indonesia?” tanya Greyson. August berfikir sebentar, beberapa menit August mulai memutuskan.

“maybe just Sasta, i mean she is the one who really be my best friend, about Indonesian Artis... yeah, they won’t be here, but Sasta, she must comes, whatever the case, and she’ll be going to Jakarta, with me, so. You know” ucap August, lalu kembali fokus ke dalam konsepnya. August tenggelam dengan imajinasinya sendiri. Hingga tidak sadar Greyson memperhatikan wanita itu. Disaat Greyson melihat, jidat August berkerut, lau mulutnya dimiringkan sedikit, mengatakan bahwa ada yang salah, dan rambutnya yang dikuncir ke atas asal, melihat kemeja nya dibuka, yang menampilkan tank top nya. Greyson tersenyum sekali lagi, lalu mengambil satu foto gadis itu.

“i forgot you always pretty whatever the pose you are” ucap Greyson, melihat hasilnya, terlalu manis, untuk dibilang aib.

“what?” tanya August, lalu beranjak, melihat kamera Geyson. August melihat hasil jepretan Greyson itu. August tersenyum melihat itu.

“i’m always pretty” ucap August, lalu kembali ke kertas-kertasnya. Greyson memutar matanya, lalu mulai menempeleng kepala August.

“awch!” protes August. Greyson hanya menjulurkan lidahnya. August menatap Greyson lurus, melihat Greyson tidak mengerjakan apa-apa. Bahkan laptopnya sekarang sudah memunculkan tab twitter.

“seriously, Greyson, you’re not working” ucap August. Greyson mengangkat alisnya, lalu tersenyum.

“okay” ucap Greyson, lalu kembali mendata, seluruh undangan yang mereka berdua akan undang, sambil tiduran, saat heningnya, handphone Greyson berbunyi. August mengerinyit, dan melihat ke handphonenya itu. tertulis tulisan Olivia. August menghembus, mengambil telponnya, dan melempar ke Greyson, yang asik dengan lagu yang terputar dari iPod August. August menglirik sebentar lagu apa itu, ternyata lagu Conor Maynard, Can’t Say No. August mengerinyit heran, menatap Greyson yang sedang menjawab telponnya.

“you are so gay Greyson” guman August, menatap sahabatnya yang berjoget kecil mendengarkan lagu itu, memang, lagu itu enak untuk menggoyang tubuh, tapi untuk seorang lelaki.... dan juga Greyson. itu aneh, sangat super aneh, untuk lelaki yang menyukai lagu-lagu sejenis band indie, atau lagu lama. Greyson menatap balik August, heran melihat tatapn August itu.

“hello, what’s going up babe?” tanya Greyson. Greyson berdiri, dan menuju ke balkon melihat jalanan, dan lalu berbalik, melihat August kembali sibuk dengan MacBooknya.

“can you pick me up?” tanya wanita itu, dari ujung telepon. Greyson mengerinyit, tumben sekali pacarnya minta jemput. Walaupun bukan Greyson yang menyupir, pasti supirnya, tapi tetap saja.

“oh, okay, when’ll you going home?” tanya Greyson, Olivia memekik senang, dan langsung memberikan tahu jam berapa Olivia di jemput. Greyson, mengangguk lalu kembali duduk di kursi malas August.

“what she said?” tanya August. Greyson kembali ke MacBooknya, lalu menoleh ke arah August.

“she asked me to pick her up, so i said yes, can we take a break?” tanya Greyson. August menghela nafas, August tau pasti wanita itu –selalu- menggangu mereka berdua, dalam bentuk apapun. August mengangguk lalu muali kembali ke MacBooknya.

“maybe you can give her like fifteen cards, to invite her friends” ucap August. Greyson mengangguk, lalu kembali sibuk dengan laptopnya. Pent House August yang cukup luas itu, terasa sangat hening, dengan sengatan panas matahari di atas mereka yang sangat terik, August sibuk dengan tempat dan beberapa pemesanan makanan, dan Greyson sibuk mendata ulang siapa yang akan diundang. Seketika pent house itu terasa sunyi...

            August masih sibuk dengan MacBooknya, dan terpaku dalam menjelajahi beberapa cafe yang ada di Los Aneles untuk digunakan, Greyson sedang berbaring, sambil membaca iPad nya yang menjadi daftar undangan, saat henig dan panas tersebut, dering telpon Greyson, memecah keheningan, keduanya sehentak, dan langsung menuju ke arah iPhone nya Greyson. August, melirik, dan segera melihat tulisa “Olivia” August membuang matanya untuk kembali, fokus. Greyson mengangkatnyanyalalu mulai mengangguk dan mematikan teleponnya.

“i’m going, take a some rest August, eat your lunch, and eat your pills too” ucap Greyson, sambil mengacak pelan, rambut August, lalu August mengangguk, meskipun Greyson tidak bisa melihat anggukan itu, saat pintu pent house August terdengar, August menghela nafasnya dengan berat. August berdiri, dan mengambil Jus Alpukatnya, dan segera berjalan ke dapur. August mengambil handphonenya, yang terlantar di ruang tamu, dan kembali duduk di meja makannya. August mencqari-cari kontak yang mungkin seharian kemarin dia tidak cari. Langsung memencet call, dan mendengarkan suara telepon berbunyi.

“hi August” sapa sebrang sana, August tersenyum, lalu mengambil satu piring pasta yang mungkin mamanya sudah buat tadi.

“hi babe, hows going?” tanya August, sambil mengacak-ngacak pastanya. August mendengar suara celotehan dari latar belakang Cody, August mengerinyit, tapi langsung membuang selintas fikiran buruk dari otaknya.

“are you mad?” tanya August spontan, lurus ke arah Cody, memastikan tidak ada yang salah dari Cody, karena semuanya terasa berbeda.

"no i'm not" ucap Cody datar, merasa bersalah dengan wanita yang ada di sebrang sana, Cody tersesat, tersesat dalam tornado perasaanya, tersesat dalam buaian semu yang dia terima saat ini, bahkan cody merasakan buaian semua ini nyata, dan hal nyata itu, menjadi bayangan yang maya tak tentu. Cody tidak tau, apa yang telah dia lakukan ini, adalah sesuatu hal yang benar atau tidak.

***

            Greyson mengsms Olivia, kalau dia sudah ada di depan sekolahnya Olivia, tiba-tiba Olivia langsung meng sms menyuruh untuk masuk ke dalam sekolah, dan menjemputnya di lapangan. Greyson menghembuskan nafasnya malas, malas kalau dia harus masuk ke public school itu lagi, dan mendengarkan namanya dipanggil, atau dipekik girang. Greyson langsung keluar dan mencari Olivia di lapangan yang sekolah Olivia punya, saat sampai, Greyson langsung melihat, wanita rambut hitam itu yang berbalut seragam cheerleaders dari SMP itu,berlari ke arahnya. Greyson tersenyum lebar, dan menyambut pelukan gadis yang menghampirinya itu.

“hi babe” ucap Olivia tersenyum lebar, Olivia langsung mengecup pelan bibir Greyson. Greyson tersenyum, kecil lalu merangkul pinggang Olivia.

“are you done?” tanya Greyson. Olivia, mengangguk, lalu Greyson segera menarik Olivia, keluar lapangan. Olivia melambaikan tangannya ke tim cheersnya dan langsung berjalan sama Greyson.

“can we take a lunch? I’m hungry” ucap Olivia, Greyson berfikir sebentar dan mengeluarkan handphonenya.

“what are you doing?” tanya Olivia, melihat pacarnya itu langsung mengeluarkan handphonenya daripada menjawab pertanyaannya.

“me and August, in the middle of discussing our birthday party, i need to ask her permission if i want to go out somewhere with you” ucap Greyson. Olivia mendengus kesal, melihat sikap Greyson. tolong, nama wanita itu, sudah sangat membuat Olivia muak, dia tidak ingin mendengarkan nama wanita itu, terlebih dengan pacarnya.

“she’s not your girlfriend” dengus Olivia, sambil berguman, menatap sinis Greyson yang sedang menelpon August. Olivia, melepas tangan Greyson, lalu langsung masuk ke dalam mobil Greyson, Greyson yang melihat sikap itu, mengerinyit heran dan menaikkan pundaknya, mungkin dia ke capek an, jadi aneh.

“and oh yeah, you can invite like fifteen or sixteen people to my birthday party” ucap Greyson lagi. Olivia menoleh sinis ke arah Greyson.

“oh, will August mad? Or even will she yelling at you if she knows i’m invite my friends, to her birthday party” sindir Olivia, Greyson menatap aneh wanita itu.

“actually, August ask me to invites your friends, Olivia” ucap Greyson, Olivia memutar matanya.

“whatever” guman Olivia. Greyson menggeleng heran melihat sikap wanita itu, dan kembali fokus ke handphonenya.

***

            August menghela nafas setelah mendapatkan telepon dari Greyson, bahwa dia akan makan siang dulu, pasti itu akan lebih lama notabene ada olivia disana. August menghenyakkan dirinya ke atas sofa, dan menatap kosong TV itu, August kembali menerka ada apa dengan pacarnya. Cody di telpon tadi begitu dingin, dan latar dari suara telepon iut... terasa salah. August termenung, terlarut dalam kelutan otaknya itu.

***

“oh my God, finally we made it!” ucap August, terhadap laki-laki itu. Laki-laki di hadapannya itu tersenyum bahagia, dan mengangguk.

“i love you so much August” ucap laki-laki itu lagi. August tersenyum lebar, sangat lebar, dan menatap mata itu dengan jelas.

“i love you, i really do” ucap sekali lagi laki-laki itu, menatap langsung August, August terhipnotis akan kerlipan, dan sinar dari cahaya itu. August tertarik dalam aura yang diberikan laki-laki itu. August menutup matanya, dan merasakan, dirinya sudah tidak memijak bumi lagi, dirinya seakan terbang, seakan sentuhan yang dia rasakan dibibirnya, membuat dia ringan, dan dibawa oleh arus angin yang menari diantar mereka. Rapat tubuh August dan laki-laki itu seakan tidak ingin membagi kehangatan dengan helaian tipis sang angin. August membuka matanya perlahan, August melihat senyuman itu, August melihat mata itu dengan indah. August mengangkat tangannya untuk membelai pelan lelaki itu, tapi August tercekat, melihat tangannya, disimbahi dengan darah. August menoleh ke bawah, dan dia melihat tubuh didepannya, tidak  lah sempurna, ada darah yang keluar deras di tangan lelaki itu, August menatap leaki-laki itu lagi. Darah segar, terhembus dari kepala laki-laki itu. August mundur untuk beberapa langkah.

“you” ucap August, menggelengkan kepalanya dengan kencang, menatap laki-laki itu.

“August, don’t” ucap lelaki itu, August masih mundur perlahan.

“August” ucapan itu memelan, August masih mundur, masih tidak akan pernah percaya dengan apa yang ia lihat

“August” ucapan itu membayang, August merasakan semuanya telah kembali memutih. August melihat semunya kembali menghilang. August sadar, ini hanyalah mimpi, August mengusahakan dirinya untuk bangun dari mimpi itu. tapi August tidak bisa, dirinya tercekat dalam mimpinya. Hanya teriakan namanya lah yang menggema di dalam pandangan putih itu. August menutup matanya, ingin menangis, tapi rasanya tidak bisa, yang ada keluar rasa perih yang biasa dia rasakan, ketika mengeluarkan darah tersebut.

“August”

“August”

***

“AUGUST!” teriakan langsung memecah, keheningan pent house tersebut. August membuka matanya, tapi semuanya menjadi buram, dia masih melihat Greyson di hadapannya tapi semuanya buram.

“Greyson, what happened?” tanya August, mati rasa, tenggorokannya kelu, menatap mimpi itu.

“your eyes, your bleeding again” ucap Greyson. August menatap lemah Greyson, August ingin menutup matanya, tapi dia tidak ingin, dia tidak ingin tercegat dalam mimpi lagi. August segera bisa merasakan ada tisu basah yang membersihkan mukanya, dan cairan lengket mulai terasa di tulang pipinya. August melihat Greyson sedang menanganinya. August menghela nafas berat. Menatap Greyson yang langsung melihat, kearah luka itu, ekspresi Greyson tidak akan pernah berganti, serius, dan ragu, August menutup matanya, dan mencengkram erat baju Greyson, menahan perih jarum tersebut, untuk kesekian kalinya menyiksa tulang pipi August.

“what happened?” tanya Greyson. August menunduk, tidak mengerti apa yang dia mimpikan, mengapa lelaki itu tiba-tiba seperti itu, tidak bisa membayangkan kenapa darah ini tetap mengrogoti dirinya.

“where’s Olivia?” tanya August, mengalihkan pembicaraan, Greyson menghela nafas, lalu mengangguk pelan.

“she’s home, what hapeen?” tanya Greyson, August menggeleng pelan, sambil menunduk. Greyson yang menatap ekspresi itu mengangguk pelan, mencoba untuk mengerti mengapa itu semua terjadi, bukan suatu hal yang membuat Greyson terbiasa, melihat wanita ini sudah terbanjiri oleh darah, dengan hal-hal yang tidak jelas, tubuh August meringan, kulitnya memucat. Greyson mengelus pelan rambut August, dan menarik diri August jatuh ke pelukannya, pelukannya begitu ringkih, rentan akan segalanya, hening langsung terlarut dalam pent house August, hening yang menusuk, hening yang tercipta akan darah segar yang ke luar dari air mata August.

“August, be strong” ucap Greyson pelan, August terdiam, dalam benaman dada Greyson. August membungkam mulutnya dengan kencang, menahan betapa pahitnya kenyataan yang telah dia alami, betapa pahitnya kenyataan bahwa dia bukanlah manusia yang normal.

“don’t give up August, i know you can make it, August, please” ucap greyson. August mengagguk pelan, damalm bekapannya ada tetesan hangat di puncak kepalanya. August menoleh ke atas, melihat air mata itu, keluar lagi dari mata coklat yang selalu tidak pernah gagal membuat dia merasa aman. August menciut, melihat tangisan itu, badan August meringsut. August membuang pandangannya



“don’t” ucap August, menahan tangisan Greyson. Greyson menggeleng pelan, lalu menarik August ke dalam pelukannya. August rasanya ingin menangis, berteriak, bahwa dia tidak tahan dengan semuanya ini, dengan semua tekanan ini, dia ingin merasakan bagaimana manusia normal hidup dengan normal. August tidak ingin seperti ini, dia tidak pernah ingin seperti ini.

“i will” ucap August, menatap lemah, ke tatapan mata coklat itu. Greyson mengangguk perlahan, dan tersenyum, menggendong August, dan membawanya ke kamar August. Greyson tersenyum, bahkan sangat manis, sanggup meyakinkan August untuk bertahan di dunia ini lebih lama lagi, lebih kuat lagi. Greyson menidurkan di atas tempat tidurnya, dan menatap muka pucat August.

“call me if you need me okay?” tawa Greyson dengan senyumnya, August menggeleng, meminta untuk Greyson tunggu disini, disampingnya. Greyson mengangguk, lalu duduk di samping August, August tersenyum, lalu mulai menutup mataya, sambil memgang tangan Greyson dengan kencang, sambil tersenyum lemas, August menyeret dirinya untuk kembali ke alam bawah sadarnya. Hingga dia merasakan hawa hangat itu ditubuhnya...

***

>>> yea mannn, part 35 is up!!!! i'm soo sorry if i'm not posting this story really quick, cause yeah, like in part 34. i'm quite busy, AND HECK YES! i'm one of student 12 senior high school jakarta B) so this is my "freshgirl" gift, to you guys, hope you like it, and as usual, thank you for wasted your time to read this story, and let me know what do you think! x 
ps: i'm not quite sure when will part 36 will be post, but i hope it's soon xo
(: :D

- @Audeeyah

Monday, July 2, 2012

Remember August ( Part 34 : Wonderful Morning )


***

            August masih tertawa kecil, saat bangun, dia mendapat email dari Sasta, untuk melihat tweetnya Olivia. Beserta usernamenya. August melihat jelas  dua tweet yang tidak sangat penting. Hal seperti itu diumbar twitter, what a stupid. Batin August. August hanya tertawa kecil lalu kabur ke pent housenya, sebelum Greyson, meneriaki dirinya, ketika, tubuh Greyson sudah penuh dengan cream cheese. Dugaan August benar, baru saja August menutup pintu penthousenya. August terdengar suara amukan Greyson. August tertawa lebar, dan berlari ke dalam kamarnya.

            August mengambil mandi, dan segera mengeringkan tubuhnya, dengan santai August, mengtweet “marahnya serem-_-” August mengscroll down mentionnya yang ramai. August mengerinyit heran, ada apa ini? Saat ada link beserta tweet. August terdiam, dan membuka fotonya. FOTO. AIB. DIRINYA. YANG. ADA. DI. LAPTOP. GREYSON. August melongo lebar, lalu langsung mengecek timelinenya Greyson.

“what a beautiful August is” tweet Greyson, beserta link foto August itu. August langsung menganga lebar, dan segera berjalan ke arah penthouse Greyson.

“how dare you, GREYSON!” ucap August, teriak depan pintunya, dan masuk melihat Greyson hanya menggunakan handuk.

“August! OUT!!!” teriak Greyson protes melihat August yang tiba-tiba masuk, dan Greyson hanya menggunakan handuk, ya, hanya handuk.

“HAHA” teriak August, lalu kembali masuk ke penthousenya, dia segera membuka twitternya kembali.

“foto ter-aib, yang Greyson punya. Itu pas thanks giving, dan gue masih 12 tahun. yekali Congratulation. @Greysonchance *sarcastic*” tweet August. Lalu kembali merutuki Greyson dengan rentetan-rentetan kata tidak jelas. Lalu hapenya berbunyi, dan melihat ada satu mention dari Greyson.

“i’m supposed to be mad, not you...” balas Greyson. August tersenyum kecil menatap tweet itu, dan kembali menyibukkan jemarinya untuk mengetik di layar iPhone.

“i hate you >:o. Jelek lo jadi cowok” balas August, sambil tertawa kecil.

“oh i love you too. So forgive me maybe?” balas Greyson, August tertawa kecil, Greyson tau sebenernya August tidak marah ke Greyson. August masih melihat mention-mentionnya, yang sudah pasti akan banjir, dengan fans-fans mereka.

“it depends on you” balas August lagi, saat dia kembali sibuk dengan mention-mentionnya, yang rata-rata tertawa atau sakit kepala melihat sikap idola mereka yang terlalu aneh. Baru August ingin mengetweet aib Greyson. seseorang memanggilnya.

“hi. August” sapa Greyson, yang sudah ada didepan pintunya. August menatap dingin ke Greyson, dan langsung tanpa basa-basi August menubruk tubuh Greyson dia atas karpet merah itu. Greyson berteriak minta ampun, tapi August tidak memberikan.

“is not only my fault, you started it first” protes Greyson. August berdiri lalu Greyson dengan rusuh menggendong August dengan bridal style, dan menjatuhkan dirinya ke sofa.

“how dare you, did that to me” ucap Greyson, lalu menggelitiki habis August, tanpa ampun. August meminta ampun sambil tertawa, ibunya August hanya tersenyum melihat kedua anak kecil itu, tidak pernah merasa, betapa childishnya mereka itu.

“haha, Greyson stop it” rentah August, Greyson tidak merelakannya, lalu dengan sekuat tenaga August menendang perut Greyson lalu kabur, dari pent housenya.

“come here you!” ucap Greyson, mengejarnya. August berlari dengan cepat, lalu segera ke arah tangga, dan turun dengan cepat, beruntung, penthousenya hanya di lantai enam, jadi August tidak perlu capek, lari ke bawah.

“August, don’t run!” teriak Greyson. August tertawa, lalu tetap berlari, dengan cepat dia keluar dari Apartemen, dan berlari di trotoar, sambil tertawa lebar.

“uh oh is Greyson tired? Come on, catch me” ucap August meledek, lalu berlari kembali, sambil tertawa lepas. Greyson gemas, lalu berlari dengan cepat, dan dengan cepat pula. August tertangkap dengan pelukan Greyson. August tertawa. Greyson mengangkat wanita itu, dan langsung dibawa kembali ke apartemennya.



“you gonna die, after this” ucap Greyson, yang memegang erat August. August mencoba untuk melepaskan genggamannya.

“oh you wish” ucap August, tepat lift berbunyi. Greyson lengah, dan August langsung kembali lari-larian di lorong apartemennya itu, sambil tertawa. August masuk ke apartemennya dan langsung mengumpat, dibelakang sofa.

“BOYA!!” teriak Greyson. August berteriak, kaget melihat Greyson sudah ada dibelakangnya. Greyson menahan tangan itu August, dan menduduki kaki August. August terdiam, lalu menatap lurus ke arah Greyson.

“seriously, don’t kill me” ucap August langsung. Greyson menaikkan alisnya. August terdiam.

“just tweet that you are saying sorry to me, and you, admit that i’m a master of prank, and no one can beat me” ucap Greyson. August melongo, melihat sikap Greyson.

“okay!!!” protes August, Greyson berdiri, dan langsung menyambar iPhonenya August, menarik August ke rangkulannya.

“tweet now” ucap Greyson. August memutar matanya malas, lalu mengetik dengan cepat –dan-sangat-tidak-ikhlas-

“i lose, Greyson always be the best. Sorry Greyson” ketik August. Greyson tersenyum puas, lalu melepas August, dengan senyum menang. August masuk ke dapur dambil memainkan handphonenya. Greyson bersender ke deretan meja yang ada di dapur.

“oh, i forget to tell you, don’t go anywhere, because, we have to discuss our birthday party” ucap Greyson. August mengangguk, lalu kembali fokus kembali ke handphonenya.

“itu tweet paksaan” tweet August lagi, lalu menaruh, handphonenya di meja dapur. Saat sedang mencari makanan. Jeremy datang dengan bodyguard August, August mengerinyit.

“what are you doing?” tanya August. Melihat Jeremy dan bodyguardnya.

“talking about your trip to Jakarta, missis” ucap Jeremy, dan duduk sebentar diruang tamu, berbicara dengan Bodyguardnya August.

“when’ll you going to Jakarta?” tanya Greyson lagi, August berfikir sebentar.

“first plan, fith or sixth September” ucap August. Greyson mengangguk, August kembali melihat ke handphonenya dan tertawa kecil, melihat tweet dari fans-fansnya yang ada di Indonesia. Saat tertawa kecil Greyson menyentuh ubun-ubun August, August terdiam, melihat ke arah Greyson yang tersenyum menatap August.

“what? You’re creepy Greyson” tanya August lalu dengan tatapan anehnya dia hujami ke arah Greyson, yang ditatap, hanya tersenyum lebar, lalu digerakannya tangan yang diaats kepala itu untuk mengacak rambut hitam itu.

“don’t be too long okay? I will miss you” ucap Greyson tersenyum, sangat manis. August terdiam sebentar, mendengar pernyataan itu, sugguh itu adalah kata terindah yang pernah August dengar untuk bulan ini. Setelah diam sebentar August mengangguk dengan antusias. Greyson tersenyum lembut melihat sikap August itu, dengan kikuk. Greyson menarik tubuh August ke dalam pelukannya, Greyson menunduk, memeluk kencang August. August tertawa kecil.



“thank you, i’ll miss you too” ucap August. Greyson tersenyum, dan melepas pelukan itu. August menatap mata Greyson yang berbinar, yang membuat sudut bibir August menyungging ke atas.

“Greyson” panggil August, tersenyum lebar, Greyson mengerinyit. Lalu menoleh ke arah August kembali.

“what?” tanya Greyson, heran. August menunduk, saat mengangkat kepalanya. August tersenyum dengan manis, dengan tulus, dengan hatinya, dan juga matanya.

“thank you for this wonderful morning” ucap August. Greyson mengangguk, lalu segera keluar dari dapur August, dan bergabung dengan Jeremy, dan Bodyguard August yang sedang asik, membicarakan pertandingan basket semalam. August menatap refleksi itu, August merasakan lengkap pagi itu, merasakan semuanya tepat. Melihat Greyson tersenyum padanya, terasa sangat indah. Sekali lagi, August mengambil handphonenya, mencari gambar Greyson, dan August yang diambil oleh fans August.



“i’m lucky that i have the best friend in the world.” Beserta link foto dirinya dan Greyson. August tersenyum, lalu bergabung dengan Jeremy, Greyson melanjutkan pembicaraan bola basket yang August tidak mengerti sama sekali. August tersenyum mengambil secarik kertas, yang ada di mejanya.

“i’m out the touch, i’m out the love, but i can still standing this now, cause you are here with me now, i’m out the sigh, i’m out the fight, my world is complite now, cause you are with me now. “ tulis August, dengan senyumnya, dan lirik itu kembali mengalir dari otaknya, August tersenyum lebar, hanya beberapa menit, lirik itu terbuat, hanya tinggal membuat nada, dan mungkin itu akan menjadi album ke-tiga August nanti, album yang akan berisi, betapa indahnya dunia yang August punya, betapa bersyukur dirinya, dengan apa yang dia miliki saat ini.

***

>>> yeay, finally part 34 is up!!!!! woah, so close to school xD 2 weeks more, and i'm in Senior High School (ye~ ye~ ye~ ye~ la~ la~ la~) and as you know this week, my time really get caught by registration... and next week, will be preparing for MOS. so, i'm not quite sure when i'll post part 35... but i hope i'll post it as soon as possible. as usual, thank you for wasting your time to read this story, and let me know what do you think!

(: :D

- @Audeeyah

Tuesday, June 26, 2012

Remember August ( Part 33 : Sleepover. Late Night Prank )


***

“clean yourself first” ucap Greyson, mendorong August ke dalam pent housenya. August mengangguk lalu masuk ke dalam pent housenya, dan membersihkan dirinya. August menengok ke arah kaca didepan pintu, saat dia fikir ini cukup untuk bersantai di rumah Greyson. August membawa selimut, favoritnya dan mengambil asal beberapa dvd yang ada di depan tv nya. August berjalan keluar, dan melihat ibunya Greyson sedang mengobrol dengan ibunya. August tersenyum lalu keluar dari pent housenya, dan mengeloyor dengan seenaknya ke pent house Greyson, dan langsung disambut dengan sofa, yang menjadi alih tempat tidur. August tersenyum, langsung terjun ke sofa itu.

“where’s Alexa?” tanya August, melihat rumah itu kosong melompong.

“back to Edmon, she lives there” ucap Greyson, August mengangguk, lalu menidurkan kepalanya, terlihat jam tujuh terpampang di jam digital Greyson. August bangkit, dan mengambil entah cemilan apa yang Greyson punya, dan kembali tidur di sofa tersebut. August bersandar, dan terlihat Orphan berputar. August memutar matanya.

“you don’t” ucap August. Greyson terkekeh.

“i do” ucap Greyson, tanpa ekspresi menatap August. August menatap Greyson lebar, dan dengan spontan. August meniban Greyson dengan seenaknya.

“i told you i hate this film! This movie doesn’t make a lot of sense!!!” ucap August yang dengan seenakanya, duduk di atas badan Greyson, yang mencoba melindungi dirinya.

“i don’t care, just watch it” ucap Greyson.

“no!” potong. August, lalu mulai mematikan dvd tersebut, dan mencari beberapa kepingan cd yang mungkin mereka bisa tonton.

“how about knowing?” tanya August, Greyson yang sudah duduk berrfikir sebentar.

“okay, put that” ucap Greyson. August tersenyum, lalu menaruh kedalam DVD player, August berdiri, dan kembali berbaring di atas sofa. Greyson berbaring disamping August, August dengan hening, menonton, film itu dimulai.

“i really miss this moment, actually” ucap Greyson tiba-tiba. August mengerinyit dan menengok ke arah Greyson.

“why?” tanya August, menatap Greyson, yang masih bersender tegak, tapi August sudah merosot kebawah.

“i just miss the moment, when me and you, laying together under the blanket, watching some movies, eating popcorn, and there’s no one can distrub us” ucap Greyson. August menatap lurus ke arah telivisi yang sedang menayangkan film knowing.

“yeah, me too, i mean it’s lovely when i have someone, can still act normal, like i’m the normal person in Oklahoma.”  Ucap August lagi, masih menatap lurus film tersebut.

“do you miss everything?” tanya Greyson.

“what should i miss? fifty persents of my childhood are spent on hospital, what should i miss?” tanya August menoleh ke Greyson dengan muka kesal. Greyson menghela nafas, dan menarik kepala August ke dalam pelukannya.

“you are the strongest person i’ve ever know beside my mom and my sister August” ucap Greyson .August menghela nafasnya pelan.

“i’m not Greyson, you make me” ucap August. Greyson terdiam, lalu berdiri, meninggalkan August, dan kembali membawa MacBook Airnya. August mengerinyit.

“you have no idea what i keep in my MacBook for this long time” ucap Greyson. August bersender, tegak dan melihat apa yang Greyson lakukan.

“this” ucap Greyson, membuka folder, yang selalu dia buka terakhir, dengan pasword yang sama.

“you have all of this? You got to be kidding me” ucap August tidak percaya, melihat semua koleksi foto-foto yang mereka pernah alami. Ulang tahun mereka berdua, foto August dirumah sakit, foto August sedang latihan cheerleading dengan teman-temannya.

“you keep this folder, even we’re in fighting?” tanya August lagi. Greyson tersenyum lalu mengangguk setuju.

“i guess i am?” balas Greyson, melebihkan ke pertanyaan. August tersenyum, lalu mengacak rambut sahabatnya itu.

“you are really my best friend in the world” ucap August, Greyson tersenyum lebar, lalu kembali menatap foto-foto yang mungkin sudah ada ribuan, didalam itu, karena mereka tahu, kisah mereka dalam hidup mereka yang sudah 15 tahun, tidak cukup hanya digambarkan dengan foto, dan tidak mudah untuk degambarkan dengan suatu cerita manis, karena ada suatu hal yang tersirat, dalam diri mereka, ada suatu benang tipis, tapi suatu hari akan bisa menebal, jika mereka masing-masing menyadari adanya benang tersirat itu diantara mereka...

***

“seriously, i have no idea with that picture, i really hate you. Greyson Michael Chance” ucap August masih tidak percaya dengan foto yang Greyson punya, satu foto aib yang August sangat berusaha untuk menyembunyikannya. Satu candid August dengan jeleknya, ingin bersin, sambil memegang cheese cakenya. Alhasil, dia membentuk muka aneh, dan krim cheese dari cheese cakenya itu, terkena di pipinya.

            Greyson masih ingat,saat itu adalah acara Thanksgiving, seperti biasa, keluarga besar August dan Greyson akan berkumpul di halaman belakang mereka, dan mulai berbincang, mengadakan pesta, seperti biasa lagi. August dan Greyson akan berlari sekeliling rumah, sambil mengambil foto keluarga mereka. August termasuk wanita yang ajaib, setiap di candid dia selalu memiliki muka yang enak dilihat, meskipun dia sedang menguap, atau sedang bersin ada saja, aura cantiknya keluar. Tapi tidak untuk satu foto yang Greyson tidak sengaja ambil. August benar-benar ngambek sama Greyson ketika dia tidak mau menghapus foto itu. August mendiami Greyson berhari-hari, sampai August memaafkannya, dengan sogokan ice cream yang cukup banyak ke August. Tapi August masih tidak percaya Greyson memiliki foto itu.

“delete it now, or i mad at you, and i won’t forgive you even you five me a tons of ice cream” ucap August, menunjuk tepat didepan muka Greyson.

“no i don’t” ucap Greyson. lalu mengclose foldernya itu. August mengambil alih MacBook Greyson, dan melihat foto-foto lain yang Greyson ambil dari DSLR nya.

“hows your realtionship with Olivia?” tanya August. Greyson tersenyum.

“it’s good, so hows yours?” tanya Greyson. August menghela nafas.

“i doubt tha he ever loves me, he doesn’t get any jealous whenever i’m with you” ucap August. Greyson mengerinyit.

“what?” tanya Greyson, penuh tidak mengerti.

“he seems like don’t care about me, he just go with it” ucap August lagi. Greyson terdiam sebentar.

“Olivia does too” guman Greyson, August mengerinyit menatap Greyson.

“dis she mad at me? when you know, there’s no much time you spent with her, since you got back here, you always go with me” ucap August lagi, Greyson menaikkan pundaknya.

“she’s busy with her school, she said she needs to fix her history and math class, i ask her to come here, maybe i can help a little about math, but she doesn’t” lanjut Greyson, terkekh pelan.

“you are so over your self, your math doesn’t good at all, i’m better than you” protes August. Greyson tertawa kecil lalu mengacak rambut wanita dihadapannya.

“no i’m seriously better than you” ucap Greyson, mereka tertawa sambil melanjutkan pembicaraan malam mereka yang kelewat menyenangkan. August mengambil popcornnya sambil tertawa, begitu juga Greyson tertawa kecil, mengganti film yang telah selesai, lalu kembali berbicara lagi, hingga Greyson tertidur. August mulai menatap bosan, dan menatap teman laki-lakinya. Itu, menggunakan kemeja. August langsung tersenyum nakal, August bangun dari tempatnya. Dengan perlahan, August membuka kemeja itu, bukan-bukan maksd August untuk membuka atasnya, dan “memfaatkannya” alih-alih August mengambil satu botol cream cheese di sampingnya. August, segera dengan perlahan, menyemprotkan cream cheese itu ke tubuh Greyson, dan menulis “DONT MESS WITH THE BADASS” August melakukannya, dengan segenap kekuatannya, menahan tertawa. Setelah puas. August mengambil hpnya, dan memfoto Greyson.

“Pranked.” Tulis August sambil disertai link fot Greyson yang sedang berbaring tidur pulas, dengan cream cheese di seluruh tubuhnya. August tertawa lalu mulai mengetik satu tweet baru lagi.

“i’m so sorry for my dearest bestfriend. Ecen, Cen, maafin gue... salah sendiri tidur lo kayak kebo... jangan benci gue cen, aku cinta pada muh~” tulis August dengan bahasa Indonesia, Baru beberapa menit setelah tweet itu, mention August membludak, dan ada satu tweet dari timelinenya, yang menggunakan bahasa Indonesia.

“itu Greyson gak bangun?” tanya wanita itu. August tertawa kecil. Lalu mengklik tombol reply. Dan membalas dengan cepat. “gak, dia itu kayak kebo kalo tidur, dibanguninnya susah setengah idup. K =))” balas August lagi, sambil tertawa yang digulum. August kembali melihat twitternya dan, kantuk menyerang dirinya, mungkin ini saatnya untuk tidur. August dengan tersenyum, menutup kembali kemeja Greyson, dan segera berbaring untuk mengistirahatkan badannya...




***

            Gadis remaja itu menghembuskan nafasnya lagi dengan berat, dia lihat jamya sudah jam dua belas malam, dan smsnya belum juga dibalas, padahal, tepat beberapa menit lalu, ada tweet dari seseorang yang membuat gadis ini naik pitam. Tolong, ini sudah berlebihan, semenjak pacarnya itu kembali ke LA dia belum benar-benar berbicara seperti layaknya orang merindu, malah, pacarnya sedang bermain dengan seenaknya dengan wanita lain yang sudah mempunyai pacar. Olivia langsung menatap gerah, melihat beberapa foto August dan Greyson sedang asiknya bermain di taman yang dekat dengan apartemen mereka. sambil bermain ice cream, atau entahlah, berguling seperti anak idiot di atas rumput, dan sepertinya hal itu, tidak diperparah, dengan midnight tweenya August yang dia mengerjai Greyson. berarti saat ini mungkin saja August sedang tidur disamping pacarnya. Ini membuat dirinya enek, melihat artis itu. Rasanya ingin menampar wanita itu langsung, dan membangunkan wanita artis itu, kalau lelaki yang tidur bersama dia sekarang sudah punya pacar. Olivia mendengus kesal, lalu membuka twitternya.

“kayaknya gak selebay itu deh, pacarnya siapa sih sekarang?” tweetnya, Olivia menghela nafas, lalu menulis kembali satu tweet. “dia itu gak single juga loh... gamalu ya? K” Olivia pun langsung menutup laptopnya dan segera merangsek ke tempat tidur untuk mengistirahatkan otaknya...



***
>>> here ya go! part 33! :D the "real" story begin (i guess xD) sooo. as usual, thank you for wating your time to read this, and let me know what do you think!
(: :D


- @Audeeyah

Saturday, June 23, 2012

Remember August ( Part 32 : Silly Love Songs )


***

“what place we gotta go now?” tanya Greyson sambil berjalan keluar dari toko tersebut. August memegang pinggulnya dan berfikir sebentar.

“hem, what time is it?” tanya August, Greyson mengecek jamnya, dan angka jarum pendek sudah berada di angka tiga, dan jarum panjang sudah ada di angka sebelas.

“three fifty five” ucap Greyson. August berfikir sambil berjalan, memutuskan untuk melakukan apalagi.

“i don’t what should we do” ucap August mengeluh, Greyson mengangguk. Saat mereka terlarut dalam fikiran, ada segerombolan pemain musik di depan emperan toko. August melihat sebentar, satu anak muda sedang memainkan gitar, dengan lagu Summertrain dari Greyson

“hey, check out that lil guy, singing your song” ucap August menunjuk ke lelaki kecil itu. Greyson menoleh, pelan dan tersenyum.

“i know what should we do” ucap Greyson, lalu menarik August mendekat ke arah lelaki itu.

“may i help you?” tanya Greyson. August mengerinyit heran, begitu juga lelaki itu.

“oh my God are you Greyson Chance, and you August Wibowo?” tanya lelaki kecil itu. August tersenyum.

“yes we are, so, can i have your guitar, and play for you a little song maybe?” tanya Greyson, August terkekeh, mendengar ucapan Greyson, secara spontan lelaki itu memberikan gitar ke August. August menerimanya.

“you know the chord of Stereo Hearts right?” tanya Greyson. August mengangguk.

“from the top” ucap Greyson, August mengangguk, lalu mulai menyentuh senar-senar yang ada di gitar itu.



“my heart is stereo, beats for you so listen close, keep my thought in every note, o ote”  ucap Greyson dengan lantang nya.

“make me your radio, turn it up when you feel low, this melody was meant for you to sing along to my stereo” ucap Greyson lagi, August tersenyum lebar, mungkin saja rap ini dia yang ambil, sekarang.

“if  i was just another dust you record on the shell, would you blow me up, and play me like everybody else, if i asked you to scratch my back, cause you managed that, let me in yeah, check in this boy, yeah i can handle that, further more i apologize, for shippin track, it is a last girl let me play othe couple cracks, i used to used to used know i’m over that” ucap lelaki yang tadi mengamen. August tersenyum lebar

“if i can only make a note to make you understand, i’ll sing a song, can you hear it grab you by the hand” ucap August dengan lembut, mengimbangkan suara mereka

“and just keep it stuck in your head like your favorite tune, and now my heart is stereo and just one place for you” ucap anak kecil itu. August tersenyum.

“ooooo, ooo oh” iring August tersenyum, gitar diambil alih oleh sang pengamen. August berdiri.

“my heart is stereo, beats for you so listen close, keep my thought in every note, o ote, make me your radio, turn it up when you feel low, this melody was meant for you, to sing along to my stereo” nyanyi August dan Greyson bersama, seketika, jalanan menjadi ramai, mendengarkan August dan Greyson bernyanyi, beberapa fans menjerit, melihat idolanya sedang menyanyi dihadapan mereka.

“o, o o o oo o o to my stereo o oo o sing along to my stereo” ucap August, Greyson pengamen kecil itu, dan para pendengar. Semua mendadak sunyi, dan August mengambil solo ini.

“i only pray you never leave me behind, because good music can be so hard to fine, i take your hand and hold it close it to mine, found love was deeply now, you changing my mind” nyanyi August dengan semangat, sambil menutup matanya, dan menunduk.

“my heart is stereo, beats for you so listen close, keep my thought in every note, o ote, make me your radio, turn it up when you feel low, this melody was meant for you, to sing along to my stereo” nyanyi mereka bersama. August mengambil alih, dalam nada background, semua orang tersenyum mendengar duet itu. Lagu itu selesai, dan beberapa orang memberikan beberapa pecahan uang, kedalam bungkus gitar itu.

“more, more, more” ucap gadis-gadis remaja disana. August menoleh kebelakang. Lelaki yang memegang gitar itu mengangguk setuju.

“can you playing payphone?” tanya August, lelaki itu mengangguk, August menoleh, kedepan, menggamit tangan Greyson.



“I'm at a payphone trying to call home, all of my change I spent on you, where have the times gone, baby it's all wrong, where are the plans we made for two?” buka August dengan senyum yang lebar.

Yeah, I, I know it's hard to remember, the people we used to be, it's even harder to picture, that you're not here next to me, you say it's too late to make it, but is it too late to try? And in our time that you wasted, all of our bridges burned down” nyanyi Greyson, melepas tangannya, menatap August sambil tersenyum.

“I've wasted my nights, you turned out the lights, now I'm paralyzed, still stuck in that time, when we called it love,  but even the sun sets in paradise, I'm at a payphone trying to call home, all of my change I spent on you, where have the times gone, baby it's all wrong, where are the plans we made for two?”
nyanyi August, menghadap Greyson dengan penghayatan yang August punya. August sambil menggerakkan tubuhnya, dan menunjuk Greyson, saat kata “you” tersebut.

“If  happy ever after did exist, I would still be holding you like this, all those fairy tales are full of shit, one more stupid love song, I'll be sick”
lantun lagi August, mereka saling bergandengan tangan, dan saling menatap mata masing-masing sambil menyanyi.

“oh, you turned your back on tomorrow, 'cause you forgot yesterday, i gave you my love to borrow, but you just gave it away. you can't expect me to be fine, i don't expect you to care, i know I've said it before, but all of our bridges burned down”
nyanyi August dan Greyson bergantian, dengan tatapannya ke arah August, melihat refleksi diri August yang tersenyum lebar seperti itu.

“I've wasted my nights, you turned out the lights, now I'm paralyzed, still stuck in that time, when we called it love, but even the sun sets in paradise”
nyanyi Greyson dengan senyumannya yang lebar, sambil tersenyum, menatap tangan yang saling menggamit itu.

“I'm at a payphone trying to call home, all of my change I spent on you, where have the times gone, baby it's all wrong, where are the plans we made for two?”
masih dengan lantun suara Greyson dan August dengan penuh penghayatan, mereka menghadap penonton, yang merekam mereka berdua, beberapa gadis merekam dengan kamera yang professional.

“If  happy ever after did exist, I would still be holding you like this, all those fairy tales are full of shit, one more stupid love song, I'll be sick. now i’m at payphone”
ucap August dengan pelan, lalu mengelus pundak tangan Greyson, August menutup dengan senyum yang lemah ke Greyson. Greyson tersenyum, dan mengecup pelan dahi August, lalu memeluk mereka, dan menunduk terima kasih atas tepukan itu. semua orang langsung memberikan pecahan uang ke tempat gitar kembali. August tersenyum.



“thank you for helping me, with this” ucap lelaki itu. August mengangguk, dan seketika, fans langsung mengerubungi mereka, untuk meminta foto. Greyson langsung menempatkan kameranya kesamping, dan meladeni fansnya, foto dan tanda tangan. Mereka tersenyum, menangis, semua perasaan bercampur. Augsut tersenyum lalu menangani fans-fans mereka. saat selesai. August mengecek jam Greyson, dan terlihat jam lima kurang. August langsung meminta Greyson pulang.

“let’s go home” ucap August. Greyson mengangguk, dan meminta maaf untuk pulang karena sudah terlalu letih. August menunduk, dan berjalan duluan, diikuti Greyson.

“i feel a lil bit dizzy” ucap August ke Greyson. Greyson mengangguk, lalu langsung berjalan menuntun August.

“you still want to sleep at my pent house?” tanya Greyson memastikan. August mengangguk. Greyson mengangguk lagi, dan berjalan langsung menuju apartemen mereka. lebih baik mereka segera ke apartemen, atau tidak August mengeluarkan darah lagi.

***