Sunday, November 11, 2012

Remember August ( Part 42 : They Are Made For Each Others )


***

Los Angeles
May, 19th 2013

            Saat August kembali menginjak tanah Los Angeles, August menatap matahari yang menyilaukan pandangannya, baru keluar dari bandara, beberapa wartawan sudah bertebaran, menanyakan kemana August selama ini? Setelah berita breakup August-Cody tersebar. Terlebih, August keluar dari pesawat bersama Greyson.

“August, hows your break up?”

“August, why you’re with Greyson?”

“August, please answer us” bisingan para wartawan dikuping August, August hanya tersenyum dengan genggaman Greyson di depannya, menuntut August. Bodyguard August dan Greyson melindungi mereka berdua, terlihat mamanya August juga ada di belakang, tersenyum. Menghindar dari kejaran para wartawan.

“hah, i didn’t expect that much” ucap August duduk di kursi mobilnya. August bersender, dan langsung mulai membuka handphonenya yang sudah dia tidak begitu pedulikan di Indonesia.

“are you sure you really want to go work after this?” tanya Manajer August lagi, August menoleh dan mengangguk tersenyum.

“it’s enough for my fans to wait, now i don’t want them wait anymore, we’re working now” ucap August. August bersender ke arah Greyson, dan Greyson melihat ke arah August.

“are you sure?” tanya Greyson sekali lagi. August tersenyum dan mengangguk, August merangkul tangan Greyson dan menutup matanya, menghisap aroma tubuh Greyson kembali.

“i don’t know since when i miss  i’m in your arms” ucap August kembali mengulet di bawah tangan Greyson. Greyson hanya tersenyum, dan mengusap lembut puncak rambut August.

“i know, and i’m missing you are like baby, having fun with my arm, and my body” ucap Greyson, sambil tertawa, August hanya tersenyum manja dan menutup matanya, saat Greyson sedang melihat August dengan seksama, August membuka matanya.

“hows Olivia?” tanya August, melupakan wanita itu. Greyson menghela nafas.

“we’re done” ucap Greyson. August membulatkan matanya, dan langsung terduduk.

“you what?!” seru August langsung ke arah Greyson. Greyson mengangguk.

“everything seems so wrong, i lost my bestfriend, my attitude and everything, so, i think she’s not the right person for me, cause it doesn’t matter who they are, if they’re start to make me far away from my bestfriend and my fans, i’ll let ‘em go, and back to where i belong” ucap Greyson tersenyum membenarkan rambut August yang beratakan. August tersenyum dan kembali menyenderkan tubuhnya dengan Greyson.

“sometimes, it’s great to be single, ‘aite? @greysonchance” tweet August tersenyum.

***

“August come on everyone is waiting for you” ucap manajer nya, August mengangguk,dan berlari di hallway studio mereka untuk meeting, video shoot lagunya. August masuk dan melihat beberapa crew dan tentu ada Greyson di situ. August mengerutkan keningnya, dan duduk.

“okay, ladies and gentlemen, may i indtroduce myself, I am, the director of the shoot Ryan Bargman, thank you for Mrs Wibowo management, for trusting me to make this video” ucapnya.

“I’m sorry, but can i ask you something?” potong August.

“yes miss?” tanya Ryan dengan senyum.

“why Greyson here?” tanya August bingung, Ryan pun tersenyum dan berdiri.

“from every guy we cast, no one can compare with you miss, and we all agree he will be your male video” ucap Ryan. August mengangguk.

“you are perfect together, I mean, not in that way, August and Greyson are bestfriend, we will get more connection from the video, when it comes to someone we related so much” jelasnya lagi. August mengangguk.

“okay, so here the thing” ucap Ryan. Mereka mendiskusi semuanya dari tempat video, dan konsepnya. Lagu yang akan dibikin video rencanya adalah ‘Happy Endings’. Saat sedang asik berdiskusi, tiba-tiba ada suatu ide yang muncul dari sang produser.

“why don’t you guys, in the end of video, are kissing?” tanya produsernya. August menganga lebar, dan menatap ke arah produsernya dengan muka –kau-pasti-bercanda-meskipun-aku-ingin-mencobanya- beserta Greyson hanya berkerut menatap produser dengan muka –oh-baik-itu-bagus-

“we’re kids” ucap August. Produsernya hanya tersenyum.

“we’re trying to not be naive in this time, all kids in your ages almost had a first kiss right?” tanya produsernya, August menatap ibunyan dang mengangkat tangannya.

“it’s your choice my dear” ucap Ibunya, Ibunya hanya bisa diam, karena ada suatu hal di dalam tubuh Augsut yang harus disadari. Ibunya letih melihat anaknya terlarut dalam gundah malam.

“I don’t mind at all, we’re friends like best friends right?’ tanya Greyson dengan senyum nakal. August hanya melempat botol minum kecil ke arah Greyson.

“you dirtly little perv” ucap August. Greyson hanya tertawa.

“don’t get me wrong, i’m a boy” ucap Greyson sambil tertawa menggoda August, August hanya tambah merah mukanya.

“ah, it’s up to you” teriak August frustasi.

“ugh, baby, just siad yes, i know you really want to taste this lucious lips right?” ucap Greyson, sambil berdiri menuju kursi August.

“Greyson, get off” ucap August. Merinding. Greyson tertawa dan mengecup pelan pipinya August dengan lembut.

“I’m fine, it’s just a video right?” ucap Greyson tersenyum. August langsung merasa panas di pipinya, dan dia yakin mukanya akan merah seperti tomat, mendapat perlakuan seperti itu dari Greyson.

***

Day 3 video shoot.

            Hari pertama, dan ke-dua berjalan dengan lancar. Hingga hari terakhir, dimana shoot ciuman itu akan berlangsugn. August menutup matanya dan menatap dirinya dihadapan kaca. August merasa gugup, lalu menghela nafasnya, Greyson datang dari belakang dan memeluk August.

“are you nervous?” tanya Greyson. August mengangguk.

“i’m afraid when i kiss you, i thought Cody at the same time” ucap August menatap Greyson melewati kaca di depannya.

“just relax” ucap Greyson.

“you seem enjoy it a lot, what happen with you Greyson Muchael?” tanya August. Greyson hanya tertawa di dalam pundak August.

“i want to tell you about something” ucap Greyson, lalu duduk di hadapan August.

“when I was in Indonesia, the first time we meet, and the next day we’re going to movie, you remember that day?” tanya Greyson. August berfikir sebentar dan mengangguk.

“the time, i sleep during the movie right?” ucap August. Greyson mengangguk.

“i don’t know what happen, like gost came to me and...” ucap Greyson terputus lagi. August menaikkan alisnya.

“i kissed your lips, so your first kiss is me, not him” ucap Greyson, meram, August menganga lebar, jadi apa yang dia rasakan saat itu nyata?! WOY JADI GREYSON CIUM DIA?!

“you kidding right?” tanya August, menatap lurus Greyson.

“nope” ucap Greyson, masih merasa bersalah. August terdiam, buat apa dia marah? Mendengar suara sutradara memanggil mereka untuk mengambil take terakhir, August hanya tersenyum.

“next time, if you want my lips, you can asked first” ucap August sambil berbisik, dan masuk ke dalam tempat set. Greyson terdiam, menatap August yang tersenyum seperti itu. Greyson berjalan mengikuti August.

“what the hell happened with her?” tanya Greyson dalam hatinya.

“okay, August, and Greyson, you will holding your hand, and walk in front of this dor. August, you look at him, while singing, and the the last Greyson, you kiss her” ucap Ryan. Greyson mengangguk. August menghela nafas, dan bertepuk tangan/

“you can do it, last take” ucap August.

“role back, please” ucap Ryan, August mulai bernyanyi. Mereka berdua berjalan hingga sudah ada di depan sebuah pintu.

“and tonight is the night when the stars are falling, tonight is the night when you, stole my first kiss” nyanyi August tersenyum, Greyson langung mencium August. Bibir mereka bertaut, untuk ke dua kalinya. August merasa ada ledakan kembang api di dalam dadanya. Merasakan bibir Greyson ada di bibirnya. Tanpa sadar August membalas ciuman itu. Mereka tersenyum, diantar tautan bibir itu, saat sutradara bilang cut, August baru menyadari tangannya, ada di delehr Greyson, dan Greyson dengan memeluk dirinya. August speechless. Merasakan itu semua, termasuk hal yang terlalu banyak untuk dicerna. Saat shoot selesai. August duduk, dan melihat Greyson sedang bermain dengan handphonenya. August menghembuskan nafasnya, dan berjalan ke arah Greyson. Greyson menengok ke atas dan tersenyum mebuka tangannya lebar. August duduk dengan tenang di pangkuan Greyson. Saat Greyson menatap muka Greyson.

“we still be friend right?” tanya August.

“yes?” tanya Greyson, kembali ke August, August menutup matanya, dan membuka matanya lagi, menatap lurus ke arah Greyson tanpa kata-kata. Entah kenapa di antara mereka berdua, kejadian itu kembali terulang. Rasa itu kembali menggema, hingga rasa itu benar kembali terjadi. Entah ada suatu magnet diantara mereka yang membuat bibir mereka bertaut kembali. Tidak ada penarikan kembali suatu gerakan indah itu, untuk kali ini, biarkan diri August dibawa oleh hasrat yang dia inginkan, selagi logika tidak menghalanginya, membiarkan dirinya terbaring di bawah rengkuhan posesiv yang dia rasakan, biarkan Greyson menguasai tubuhnya, mencium bibirnya, memeluk dirinya, merengkuh jiwanya. Di detik itu, mereka tahu, selama ini mereka lah yang dicari dalam satu sama lain. Greyson selama ini mencari August bukan Olivia, dan August selama ini mencari Greyson, bukan Cody. They are made for each other.



***

>>> kyaaa pasrt 42!!!!! gak ngerti lagi kenapa bisa selama ini nge post part 42, hope you like this part because this is the part i've been waiting to show to you guys, hope you like the way i like it. So, as usual, thanks for reading, and let me know what do you think.
Stay awesome for forever
- @Audeeyah

Sunday, October 21, 2012

Remember August ( Part 41 : Break Up, His Priority ),


***

            Semenjak hari itu Greyson uring-uringan, mendengar semua pernyataan Sasta. Greyson hanya bisa menatap kosong dinding putih yang ada di apartemennya, suara riang tawa August terdengar, memori indah terulang. Greyson merenungkan apa yang semua Sasta telah bilang, semua kenagan indah. Greyson kembali melihat foto dirinya dengan pacarnya itu, gadis itu, kalau dilihat benar-benar mirip August, hanya perbedaan mereka berdua terdapat di mata, dan senyuman. Senyuman August lebih khas, ada kerutan kecil dihidungnya, dan jika dia tersenyum lebar, gigi taringnya terlihat jelas. Mata August juga jauh lebih gelap dan hitam, terlalu teduh untuk ditatap, terlalu mudah untuk larut dalam hasutan sepasang mata indah itu.

            Rambut mereka hampir sama, dengan wangi yang sama. Hanya saja, wangi Ginger itu tercampur dengan wangi Vanilla dari tubuhnya, dan jika mengecup pelan dahi August, wangi madu, jahe, dan vanilla menyatu, bagaikan heroin untuk para pecandu. Sifat August yang terlalu manja, Greyson kembali terdiam, dia terlalu mengenal jauh August. Dirinya juga mengakui, kalau memang August masih memiliki tempat dihatinya, usaha yang telah dia lakukan untuk melupakan August terlalu susah. Greyson tertegun dengan batinnya. Greyson, menatap handphonenya, dan mengetik dengan cepat deretan nomor telefon yang mungkin telah di hafalkan belakangan ini.

“Olivia are you busy? Let’s meet, i pick you up about one hour from now, okay? See you” ucap Greyson, Greyson terbaring dalam sofanya. Mungkin ini disaatnya dia mulai memilih jalan hidupnya sendiri.

***

Jakarta, Indonesia
May 19th 2013

“wat the hell are you doing there?!?!” teriak August yang setelah bangun dari penerbangannya dari Bali, menatap muka lesu Sasta di depan pintu kamarnya. August langsung mendorong Sasta, dan menyeret tubuhnya kedalam kamar temannya itu.

“August, seriously, you call me in this freaking morning, to asking that, can you just wait?!” proters Sasta. August berdiri sambil bertolak pinggang.

“no, now you need to fucking tell me!!!” ucap August, Sasta, mengerinyitkan alisnya.

“who the heall you are, seriously” ucap Sasta kembali berbaring di tempat tidur.

“Ahhh Sasta mahhh” rengek August, menariki kaaki Sasta

“August, gue masih ngantukkk” erang Sasta.

“bangun gak lu, dasar kebo jahanam” ucap August, meniban Sasta.

“anjing, sakit bego.” Ucap Sasta, August tertawa dan menyingkarkan dirinya dari Sasta.

“now tell me” ucap August, duduk bersila,dan menatap Sasta yang sedang mengucek-ngucek matanya.

“gue kesana cuman ada urusan keluarga doang kok” ucap Sasta. August belum puas dengan penjelasannya.

“kenapa lo pergi sendirian coba” ucap August.

“ya terserahlah” ucap Sasta lagi. August membentuk muka sedih. “ah gaseru looo” lempar August dengan bantal. Sasta menyengir, August memutuskan untuk bermalas-malasan di rumah Sasta.

“mana oleh-oleh dari Bali?” tanya Sasta, memberhentikan keheningan. August mengulet

“dirumah” ucap August. Sasta terdiam, mengingat kejadian di cafe itu. Sasta kembali melirik August yang sedang membuka handphonenya dalam diam.

“lo disini sampe kapan?” tanya Sasta lagi. August menoleh, dan tersenyum lemah.

“selama, gue bisa sanggup ngehadepin kehancuran gue” ucap August tersenyum, dan kembali memperhatikan handphonenya. Sasta terdiam, melihat sahabatnya itu, melihat suatu retakan yang jelas di hati August. Ada sembab air mata di ujung mata hitam itu, ada gerakan letih yang dipancarkan oleh gadis itu. Sasta berdiri, dan memeluk August dengan erat.

“yang tabah, ya, you deserve more than him” ucap Sasta, yang hanya bisa memberikan semangat. Sasta tau di posisi ini, hanya ada Sasta yang bisa menemani August, melihat apa yang telah dia lakukan di Los Angeles kemarin.

“makasih Sas” ucap August tersenyum, August mengambil gitar Sasta yang ada di ujung ruangan dan mulai memainkan senarnya.

“gue baru bikin satu lagu di Bali kemaren” ucap August mulai memainkan gitarnya dengan lembut, suara beningnya melembut.

“and i just wish all the memories is burnin” lantun Augut pelan, membuka matanya menatap Sasta. Sasta menatap lembut August dan langsung memeluk erat sahabatnya itu.

“you must be strong dear” ucap Sasta. August mengangguk, membalas pelukan Sasta dengan erat.

“ke rumah gue yuk, ngambil oleh-oleh” ucap august, mengahpus titik air matanya. Sasta mengangguk, dan keluar dari rumahnya, langsung lari kearah rumah August. Saat August membuka pintunya, dan masuk ke ruang tamu. August terdiam melihat siapa yang duduk di sofa itu.

“what are you doing here?”

***

Los Angeles
May 17th 2013

“why you’re calling me?” tanya  Olivia, menatap Greyson. Greyson hanya terdiam, dan menatap Olivia lurus.

“we need to talk” ucap Greyson,vOlivia mengerut.

“what talk?” tanya Olivia masih tidak mengerti apa yang dimaksud dengan pacarnya itu. Olivia menatap Greyson lurus.

“what are you want to talk, babe?” tanya Olivia, memegang pipi Greyson lebut. Greyson menunduk, dan memegan tangan Olivia yang ada di pipinya.

“i know it sounds weird, but i think we’re not belong together anymore” ucap Greyson dengan cepat, straight ke Olivia. Olivia terdiam.

“what, what do you mean?” tanya Olivia, shock dengan pernyataan Greyson.

“i’m sorry but it is, i mean, more far we’re going out, more far, there’s something wrong between this relationship” ucap Greyson.

“you said you love me” masih bantah Olivia.

“i did, but there’s something wrong, and i just figure it out now” ucap Greyson lembut.

“what was that?” tanya Olivia, yang sudah ingin menangis.

“that is, the reason why i’m dating you, Olivia, you’re not the right person” ucap Greyson melembut, sambil mengelus pelan rambut Olivia.

“the moment when i get close to you is not the right moment, i was so upset that time, i hurt at that time, i’m miserable, because someone else” ucap Greyson lagi.

“you mean August right?” tanya Olivia, Greyson menghela nafasnya, dan mengangguk pelan. Olivia menarik nafasnya dan berdiri tapi ditahan Greyson.

“let me explaine first” ucap Greyson. Olivia menatap lurus Greyson.

“i love August, that’s the fact, when she’s going out with Cody, i feel misserable, and then suddenly you showed up, and you’re just her reflection, your look, smell, and everything, the way you talk to me, everything Olivia, i love you, i sure i do, but i love you just like my fans, it can be more, because everything in to you always realted to her, i’m sorry” ucap Greyson. Olivia menatap mata Greyson.

“do you know how feel about me? being a person really looked like her, everyday, they tell me you love me because of my look, and i guess their right” ucap Olivia. Greyson terdiam, dan menunduk. Olivia menangis dan meninggalkan Greyson. Greyson menghela nafas. what happened just happened. Greyson membawa dirinya kembali pulang, ke apartemennya, dan melihat apartemen August yang tepat disampingnya. Greyson menghela nafas.

“what’s up dear?” tanya Ibunya, Greyson hanya menggeleng dan duduk di sofa, menatap kosong tv.

“do you miss August?” tanya ibunya. Greyson mengangkat bahunya.

“are you tired with yor job?” tanya ibunya. Greyson menggeleng.

“of you are, go get some holiday” ucap ibunya. Greyson mengangguk, saat dia beranjak ke kamarnya. Greyson terdiam, lalu menemui ibunya.

“mom i guess you’re right, i will tkae some holiday, but i want to go by my self, is that okay?” tanya Greyson. ibunya berfikir sesaat dan mengangguk.

“everything suit you dear”

***

“what are you doing here?” tanya August heran, menatap laki-laki dengan leather jacket, dan sepatu conversenya itu.

“i’m here, to say sorry” ucap laki-laki itu, menunduk.

“sorry for?” tanya August kembali.

“for ignoring you lately, for not replying your voice mail, for not replying your emails, and not for being your side when you’re broke” ucap laki-laki itu lagi. Augsut melipat tangannya.

“who do you think you are Greyson, you can come and go liek this?” tanya Sasta, menatap Greyson.

“i’m here for saying sorry” ucap Greyson lagi. August terdiam, Greyson menatap langsung ke arah August, mata itu.

“August, i’m sorry” ucap Greyson tulus, ada genangan di dalam air mata August. August tersenyum lemah. Greyson tersenyum, dan langsung memeluk August erat. Greyson mengangkat tubuh August. Tangis August pecah, melihat dirinya di dalam pelukan siapa. Greyson tersenyum lebar. This, feel so right, right now, he knows August is his priority.


***

>> AAA FINALLY PART 41 IS UP :") i guess 4 more to goes for end this story :') yaaaaa, sebenetar lagi cerita ini selesaii :') i had a plan to make a sequel one, but don't know,hectic schedule here hehe. so, as usual, thanks for reading, and let me know what do you think :]
Stay awesome!
@Audeeyah

Friday, October 19, 2012

Remember August ( Part 40 : Did You Forget? )


***

Jakarta, Indonesia
February, 24 2013
Lapangan Istora InDoor Senayan.

            Senayan, dihentakkan dengan beat-beat dari 2 artis papan atas. Histeria dari semua orang pun membaur. August menyanyi dengan enerjik, tidak beda dengan One Direction. Koloborasi yang biasa mereka lakukan pun dilakasanakan dengan indah. Senyuman August di luar, benar-benar menutup ke kacauan di dalam hatinya. Menutup suatu badai, yang siap untuk menggerus semua rasa cinta yang pernah ada di dalam hati itu. Tubuh Augsut terhempas, dari kayangan awan yang dibuat dari kata indah mulut lelaki itu, dalam langkah pertama. August meyakinkan dirinya untuk menyanggupi semua konsekuensinya, itu, tapi August tidak akan pernah berfikir, akan segini sakitnya, ketika August benar-benar merasa di hempas terjun ke bumi. Tanpa genggaman, dan tanpa tempat landas yang baik. Tubuhnya sepertinya akan siap hancur membentur aspal keras. Disaat dirinya jatuh, dirinya harus berdiri, August berdiri di tegah pecahan kacanya, menahan perih dan tajamya kaca menusuk tubuhnya. Ini adalah komitmen August, dia tidak akan perah megecewakan penggemarnya. August harus mau sanggup, menari dengan enerjik, meyayi dengan indah, dan terseyum semanis mungkin, ditengah badai yag sedang berkecamuk dalam hatinya, dan diatas pecahan kaca, dari ragkaian cerita indahnya.

Sedangkan Sasta haya bisa mengasihani sahabatnya itu yang sedang bertempur dengan hebatnya di dalam diriya. Jika Sasta ditanyai siapa teman yang paling kuat dari Sasta kenal, itu hanyalah August. Sasta, termaksut saksi buta August selama dia di Indonesia, dimana August mejadi artis terkenal, dan juga dimana saat August menjadi gadis biasa, dimana saat Sasta, sempat memergoki August menangis kecil di koridor sekolah mereka dahulu, dan menjadi saksi penderitaan August, disaat dia harus menahan perihnya jarum didalam tubuhyanya itu, hidupnya sulit. Tapi dia tidak  pernah membuat semua orang masuk ke dalam kesulitan itu, dia kuat, hanya orang tertentu yang bisa masuk ke dalam tembok itu. Sasta masih termenung, dan mengeluarkan handphone August, yang saat ini dia pegang.

“hello, can we talk for a minute?”

***

Bali, Indonesua
May, 5th 2013

            Tour August da One Direction officially selesai, dan sekarang mereka mengambil beberapa hari untuk libur di pulau dewata. August menyayangkan Sasta tidak mengikuti liburan kali ini, Sasta tiba-tiba harus terbang ke Los Angeles, dengan akuan ada yang harus diurus bersama keluarganya disana. August mengangguk dengan tidak rela, melihat sahabatnya pergi di atas liburannya.

***

“hey, i’m in, the corner, i’m wearing blue shirt, high ponytail” ucap Sasta, di salah satu sudut kedai kopi Los Angeles. Orang disebrang sana mengucapkan mengerti, dan menyelesaikan perbincangan mereka. Saat Sasta, menunggu  beberapa menit, melihat laki-laki dengan leather jacket, skinny jeans, dan converse. Sasta mengangkat tangannya. Laki-laki itu menoleh, dan tersenyum mengahampiri.

“hey, Sasta, nice to see you” ucap laki-laki itu. Sasta tersenyum kecil, dan membalas pelukannya.

“hey, Greyson, nice to see you” ucap Sasta. Greyson Chance, ya, siapa lagi?

“what’s an air, you coming here?” tanya Greyson, setelah menerima pesanan latte-nya.

“i want to make it quick, do you have any problem with August?” tanya Sasta, Greyson mengerinyit.

“no, not at all. Why?” tanya Greyson

“August said you and her, lost contact, like when she did her tour” ucap Sasta kembali. Greyson menghela nafas.

“listen, i have career here, and my life just not about to take care of her, she got her own protection right?” ucap Greyson lagi.

“don’t be mad, i don’t know that you are Mr. Busy right now, but i just want to ask you one thing, care to her, she need it now” ucap Sasta memohon.

“for what?” tanya Greyson heran

“you know for what!” balas Sasta tinggi. Greyson mengerinyitkan dahinya.

“i have life here, my life is not about her, i told you that, i mean hello she is no one, i have girlfriend, i need to work here” balas Greyson tambah dingin. Sasta terdiam.

“so you mean, she’s not important, but your girlfriend is?” tanya Sasta.

“of course, she is my damn girlfriend Sasta, ofcourse she is important, i leaved August, because i’m done with her drama, she had everything, she had boyfriend” ucap Greyson lagi.

"drama? you mean her obviously disease that you've known like for an ages, you said drama?!" tanya Sasta heran menatap Greyson yang dengan egonya itu

"i know it's not, but seriously, she cries always everynight because of like useless thing don't ya know? i mean she had boy--" ucap Greyson terputus

“you didn’t know that Cody is cheating on her?” tanya Sasta memotong pernyataan Greyson, priceless.

“i don’t give a shit about that, at least she had 5 handsome boys, who ready to protect her right, i don’t care about that anymore, i’m living my life now” ucap Greyson, ketus. Sudah, ini sudah dari batas. Sasta berdiri.

“okay, you don’t give your fuck to that, sorry, Mr busy for a slut” ucap Sasta berdiri. Greyson menahan tangannya.

“watch your words” ucap Greyson. Sasta menarik tangannya.

“did you know for all this months, she has been fighting with her boyfriend keeping what she believed, and did you know that, everynight, she cried in silent, did you know, all of her smile that showed up was fake. Did you?” ucap Sasta menatap mata Greyson langsung. Greyson masih terdiam.

“she cried everynight, hoping the best, bust expecting the worst, blood always come through her nose, she’s done with her boyfriend” ucap Sasta lagi.

“and you, the person who she needed the most, with your fucking big ass ego, kissing your girlfriend, who even just like her? Get a life Greyson, why do you love some random fans? Desperate? She really looks like her, and don’t lie to your self Greyson, you did love her. I know that. it clearly i can see it. Now get off” ucap Sasta. Greyson terdiam mendegar semua protesan, dar i Sasta, saat Sasta ingin berjalan, dia membalikan badannya.

“the last, do you really forget, and throw all the beautiful memories that you had with August, while August keep it save in her mind, do you really give up on her?” tanya Sasta lagi melembut, dan meninggalkan Greyson. Sasta memberhentikan taksi, dan meminta langsung pergi ke bandara. Semuanya selesai, yang hanya bisa Sasta lakukan menghibur August.



***

Remember August ( Part 39 : Home )


***

February, 24th 2012
Jakarta Indonesia
Bandara Soekarno-Hatta

            Setelah August di opname selama seminggu, barulah satu rombongan tour itu bertolak ke Jakarta, sudah berkali-kali August mengucapkan dirinya tidak apa-apa. Dia akan senang untuk menghabiskan winter di kampung halaman Niall, daripada di Jakarta, tapi semuanya memaksa untuk langsung ke Jakarta, dan meninggalkan crew di sana. August hanya bisa mengalah, melihat ke lima kakak barunya itu yang super duper protektif, semenjak mereka tau kelainan dari August.

“where do you want to live?” tanya August, langsung o the point.

“maybe cottage?” tanya Liam, sambil menaikkan alisnya. August memutar matanya.

“let’s go to my house, there are like three guest room, you can sharing right?” tanya August. Mereka berfikir, dan mengangguk pelan.

“yeah, why not?” ucap Zayn, dan mereka segera masuk ke mobil S.U.V, atau lebih tepatnya mobil suruhan ayahnya.

“Papa dimana pak min?” tanya August, selagi duduk di bangku depan.

“bapak lagi di rumah, mau masak makanan buat eneng, ibu juga udah nyampe Jakarta kemarin malem, neng gimana neng? Di luar? Baik?” tanya supir yang sudah dekat dengan August selama dia tinggal di Jakarta itu.

“syukur banget pak min, August baik-baik aja, cepet pak, August udah kangen sama makanan papa” ucap August sambil cekikian, dan tersenyum. Kehormatan yang sudah di camkan keras oleh keluarga Ayahnya yang masih berdarah Indonesia, untuk tidak menggunakan kata Aku dengan orang dewasa. Masih di ucapkan oleh August. August kembali mengecek handphonenya dan sibuk mengetik. Meskipun Niall tidak bisa mengerti apa yang dibicarakan August, August seperti layaknya menutupi kesakitannya di depan semua orang. Meskipun ke bapak-bapak didepan ini, yang membuat August tertawa kecil, merespon jawaban itu.

“if you want to going around Jakarta, sure you can, you can use my driver, anyway, he can speak english” ucap August sambil menengok kebelakang, dan segera menguncir rambut panjangnya. Mengeksposkan kalung perak bertuliskan dance, di atas open top bajunya itu.

“sure, but i guess i need some rest, and i need some... food” ucap Niall polos, August tertawa kecil.

“my dad cooks, and he really good at, it’s delicious” ucap August sambil tersenyum, dan menatap ke arah jalan.

“here you go my house” ucap August, sambil tersenyum setelah sekitar tiga puluh menit melewati jalanan Jakarta.

“come in” ucap August tersenyum, lalu membuka pintu depan dengan lebar, dan membiarkan semua kakak barunya masuki, menatap ruang kosong, yang langsung disuguhkan dua tangga panjang menuju atas.

“where did you want to go first? Room or food?” tanya August tersenyum.

“maybe room, put our things” ucap Louis. August mengangguk, lalu menuntun mereka menuju ke atas, dan mengantarkan mereka ke kamarnya masing masing.

“home theater there, public bathroom there, and if you want to see me, i’m in another coridor, from another stairs, and the library near my room, kitchen is downstair, so living room, and dining room. I have pool, and a small yard to play basketball. the others room is my parents’s room, office room, and yeah a meeting hall, like whatever that freak place it is. Is that clear?” tanya August kembali.

“what is this? Mantion or house?” tanya Harry langsung. August tersenyum.

“this is my house” ucap August. “i’ll be waiting at the kitchen!” ucap August turun dan langsung menuju ke bawah dan mendengar suara teriakan kangen.

“she is true princess” ucap Zayn menggeleng-geleng melihat gadis itu. “yeah he is” ucap Harry dan masuk ke dalam kamar. “i’m alone, i’m naked while sleep” teraik Harry, dan langsung mengunci satu kamar, semua langsung meggeleng, dan masuk ke kamar menaruh barang.

“guys be hurry! My mom is waiting for you!” ucap August di koridor, mereka langsung keluar dan melihat August sudah berganti pakaian dengan rambutnya diikat tinggi. Semua mengangguk dan mulai turun. Saat turun mereka lansung bertemu semua anggota keluarga August.

“this is my parents” ucap August.

“hey, mr, and mrs wibowo” ucap Zayn. Ibunya tersenyum, dan memeluk mereka satu persatu.

“thank you for take care of my little girl boys” ucap ibunya, mereka mengangguk tersenyum.

“come, let’s dinner, it’s delicious, we cooked chicken” ucap ayahnya, mengedipkan matanya ke arah Niall. Mereka semua tertawa renyah. Mengambil meja di luar ruangan, mereka bercanda tawa dengan senyuman yang merekah. August kembali melupakan penyakitnya, dan menikmati hidupnya bahwa dia masih mempunyai keluarga yang mencintai dirinya.

***

“see! I told you!!!” teriak Sasta di kamar August, dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur August.

“ah tau ah, pusing gue” erang August dan kembali sibuk dengan laptopnya tersebut.

“lo sama Cody udah putus?” tanya Sasta lagi, menengok ke arah August.

“belum, tapi bakal” ucap August mendesah.

“Greyson masih gak nelpon lo? Terus yang mutusin lo gimana? Nenek lampir itu gimana?” tanya Sasta berentetan, August mantapnya tidak percaya dan melempar bantal ke arah Sasta.

“kayak nenek nenek lu” ucap August,  dan kembali fokus ke arah laptopnya.

“ya Tuhan, segitunya kak eloh?!?!” tanya Sasta dibuat-buat. August tertawa melihat ocehan-ocehan sahabatnya yang meracau dari tadi pagi jam 8. Yap, pagi-pagi buta, sudah ada yang langsung meransek tanpa dosa ke arah kamarnya, dan mengganggu jam istirahat August.

“tau ah, serah lo, mau ngambil makanan, terus gue minjem laptop lo yak, mau tutor bentar” ucap Sasta, bangkit, dan berjalan ke arah pintu.

“hem, laptop isi pelajaran ada di meja tv, sekalian sas, tolong bawaiin gue chips, sama jus dong, jus sirsak” ucap August, yang masih mengutak-ngatik laptopnya.

“hem” ucap Sasta, langsung turun ke bawah, August mulai mengklik twitcam,  dan twitcam pun mulai. August mulai menyebarkan berita dia on twitcam, disaat seperti itu, ada gerakan jalan rusuh, dari pintunya, dan pintunya dibuka keras.

“ah idiot lu Sas, buka keras-keras amat” ucap August.

“dibawah” ucap Sasta terdiam.

“paan?” tanya August yang masih on twitcamnya itu.

“ada Niall One Direction, shirtless” ucap Sasta, August priceless, mulutnya menganga, dan langsung ngakak besar, sambil memberi tahu kepada penonton twitcam itu.

“niall is shirtlees in my house now, and my friend like HAHA, you should she her face guys” ucap August masih tertawa.

“bacot lu” ucap Sasta sambil melemparkan bantal ke arah August. August masih terbahak sambil mengingat muka Sasta.

“gimana? Kakak gue ganteng gak?” tanya August sambil cekikikan, lalu mulai kembali mengurusi twitcamnya, sekitar 2 jam, twitcam berakhir. August dan Sasta kembali hening sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Sasta sibuk dengan tutor home schooling nya, dan  August sedang melihat-lihat majalah Elle, yang meliput New York Fashion Show.

“hey, Augu... oh you had a guest” ucap seseorang masuk langsung, dan melihat sosok Liam, di hadapannya.

“she’s my best friend, Sasta, and Sasta, as you know, this is Liam Payne” ucap August. Liam tersenyum melihat Sasta, dan menjabat tangannya.

“so, what do you want to tell me?” tanya August.

“i’m about to ask you go around Jakarta, go with us, seriously” ucap Liam. August berfikir, dan langsung setuju. Liam menunggu dibawah. Tentu Sasta akan ikut serta dalam wisata kecil ini.

“asalkan gue 18 tahun.... gue nikahin deh Niall, demi apapun” dumel Sasta sedari tadi, menunggu August siap-siap. August hanya tersenyum melihat temen yang, ekhm, agak norak ini.

“bawel lo ah, udah yuk” ucap August, setelah berfikir dia siap dengan bajunya, dan segara menarik Sasta ke bawah. Melihat semua sudah duduk di ruang TV. August langusng ngacir ke dapur, mengambil serauk makanan dan berjalan berdua dengan Sasta, dengan tangan penuh makanan, semua tertawa melihat August dan Sasta, membantu mereka, dan siap untuk berkeliling Jakarta, ya, hingga lusa, dia akan melanjutkan tournya.

          Tujuan pertama, Danau yang ada di Sentul, danau yang penuh dengan rumput oren di sekitarnya, berisi para pemancing menghabiskan waktunya. Ada juga kapal kecil mengitari danau tersebut.

            August, berdiri, termenung, melihat air yang tenang, dihadapannya. Di Edmond, Di Arcadia Lake, August dan Greyson pasti akan bercanda tawa di piggir danau, berlari kesana kemari, tanpa terbeban akan suatu garis benci. August menutup matanya, dan kembali menerawang, menatap air danau lurus, menanyakan, apa gerangan yang terjadi antara mereka berdua, apa salah August? Hingga seketika Greyson, meninggalkan dirinya, dan seakan semuanya baik-baik saja, meskipun mereka tahu tidak ada yang baik baik saja di antara mereka berdua.

“are you tired?” tanya Niall, merangkul August. August menatap Niall, dan menggeleng pelan, mengatakan dia baik-baik saja. Niall mengangguk sambil tersenyum, mengacak rambut adiknya, dan memberikan kecupan semangat ke adik itu. August tertawa, dan merangkul pinggang Niall, sambil menyanyi beberapa lirik Payphone. Ya, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengingat hal-hal tersebut. Ini waktu untuk bermain-main, melupakan semua tekanan berat, yang August akan selalu tampung. Only for now, cause this is her home, the place that everything seems right, place that always waiting for you to come back, to keep you safe. There's no place when you're in your home, and there's no beautiful place, if someone who care about you around you.



***


Sunday, September 2, 2012

Remember August ( Part 38 : The Destiny She Had )


***

February 14th, 2013
Mullingar, Ireland

            Valentines Day,the day that SHOULD be the most romantic day ever, for couples. But for August...

“ugh shit” erang August sambil membanting dirinya di sofa rumah salah satu band yang tour bersama dia sekarang.

“watch your mouth little girl” ucap Louis yang sedang memegang minuman squash, dengan hiasan di atasnya, yang entah August tidak tahu dapat dimana.

“shut up lou” ucap August kembali, dan melihat handphonenya kembali-kembali lagi.

“is something wrong with Cody?” tembak langsung lelaki-konsultan-cinta-August-selama-tour- berambut hitam, sambil duduk disampingnya.

“i don’t know, ugh” ucap August, kembali mengulet dirinya ke arah kanan,dan langsung, tenang sambil mengistirahatkan pundaknya ke arah Niall, yah memang wanita beruntung, memiliki seorang kakak-yang-jauh-keturunan-beda-ayah-dan-ibu. Niall hanya tertawa lalu mengusap rambut, ya yang bisa dibilang adik barunya itu.

“seriously, this is valentines day, but you really moaned, and groaned like crazy little girl” ucap Harry sambil melempar bola ke atas dan mengambilnya kembali.

“ugh,whatever” ucap August masih sibuk dengan handphonenya sambil memutarkan mukanya.

“err” ucap Harry, sambil melemparkan bolanya ke arah August.

“i hate you Harry Edward Styles” ucap August, sambil kembali melempar bola itu tepat ke arah Liam, dan suara Liam kesakitan bergema, membuat August tersenyum dikit, lalu kembali fokus dengan handphonenya.

“and i love you” ucap Harry, sambil mengecup ubun-ubun August sambil mengacak rambutnya, August mengerang kembali.

“what?” tanya August galak, langsung ke arah Louis.

“you have Eleanor, but you still jelous with me? ugh, get a life Lou” ucap August, sambil menatap garang kakaknya itu, semuanya tertawa melihat August, well, ya kehadiran August, memberikan suatu responsible lagi bagi mereka bahwa harus menjaga wanita kecil ini, yang emosinya masih labil. Sebulan sudah tour, August merasa memiliki kakak baru–dan-juga-yang-pasti-ganteng- yang mearasa siap membantu August dalam segala hal, sepertinya mereka juga bisa menjadi penghibur August, selagi Greyson, dan Cody kompak lost contact sama August. Semua anggota band tersebut tau, betapa moodynya sifat August sebulan terakhir ini, terlalu mudah bete, dan beberapa diantara mereka ada yang melihat August suka mengeluarkan beberapa tangisan, atau August kepergok sedang menangis di telpon. Hanya Niall satu-satunya saksi, yang pernah melihat kondisi August sangat down, disaat darah itu kembali menjelajahi muka August, disaat Niall untuk pertama kalinya, memberikan suntikan itu terhadap adik barunya. Niall sempat tertegun melihat darah keluar sebagai air  matanya, August meminta untuk menjaga rahasia itu, dan Niall menepati itu, dia terpana dengan gadis berumur 15 tahun itu, menghadapi penyakit yang entah apa itu, dan masih sanggup menutupi itu semua dengan baik. Sangat baik.

“you better go sleep” ucap Niall, sambil mengusap kepalanya. August mengangguk, lalu bersiap berdiri.

“don’t think about it too hard okay? Because you look so red now” pinta Niall, August mengangguk, lalu berdiri.

“maybe i want to do some twitcam tonight” ucap August, Niall menggeleng, lalu kembali mengacak rambutnya, dan menatap iPhonenya itu.

“so, whats exactly happen to her?” tanya Zayn, langsung ke arah Niall.

“i know you keep something” ucap Liam kembali.

“but promise me, you don’t tell her” ucap Niall.

“she  had some freak diseas, that if her face too red, and she really think hard, crying so hard, or get tired, she’ll get like nosebleed, and if you don’t really give her a medicine, she’ll be crying with the tears of blood” ucap Niall, semua terdiam, mendengar adik mereka yang yak, termasuk bahagia di depan mereka tapi ternyata.

“how could you don’t tell me this thing?” protes Harry, menatap tajam ke arah Niall, Niall mentap lurus ke arah Harry.

“she asked me too, and her mom too” ucap Niall. Semua orang masih terdiam dalam hanyutan angin yang mengayun lembut dalam ruangan itu. Semua orang masih tidak percaya dengan fakta ini.

“i hope you don’t tell her” ucap Niall, menatap harapan penuh ke sesama anggota bandnya itu.

“how i couldn’t?” tanya Louis, langsung berdiri, dan menuju kamar August. Louis mengetuk pintu pelan. Hening, Louis kembali mengetuk pintunya, kembali hening. Louis berfikir mungkin dia sedang tidur, tetapi tidak, dia mendengarkan suara tangisan dalam kamarnya.

“August?” tanya Louis, memastikan.

“August, open the door. Please?” ucap Louis agak kencang, ketukan pintu pun semakin keras, derapan kaki, menuju ke arah kamar, melihat teman-temannya menyusul mereka.

"what happened?” tanya Liam, dengan nada pelan.

“i don’t know she’s she’s crying inside” ucap Louis pelan. Semua terdiam, Liam kembali mencoba mengetuk pintunya.

“August, what happened?” ketuk kembali, tangisan August kembali terdengar. Niall mengencangkan rahangnya, lalu mulai mencoba untuk mendobrak pintu nya, satu tendangan dua tendang, tendangan ke tiga, pintu pun berhasil rusak. Mereka merangsek masuk dan terdiam, terdiam dalam bekuan es yang melihat sosok August. 



Dia melipat tubuhnya, membuat dirinya kecil, dengan punggungnya yang terguncang dalam tangisan, Liam melihat iPhone August tepat terkapar dilantai dengan retakan yang cukup parah. Liam mengambil iPhone itu, dan terlihat sebuah foto yang seharusnya itu manis, dengan seorang laki laki dengan lembut mencium bibir wanita itu, tetapi tidak untuk August, karena foto itu adalah Cody, pacarnya sendiri, Liam terdiam.

            Semua orang menatap handphone August, sambil membaca satu artikel. Hingga suara teriakan tedengar dari mulut August, dan suara benturan keras terdengar dari arah dirinya, semua mata tertuju ke August. Darah. Bukan, bukan hanya mata lagi yang keluar dari mata itu, tetapi hapir dari semua pori-pori kepalanya, darah mulai bersimbah di muka August. Niall mendatangi August, dan melihat ada gunting yang ia genggam, Niall mengecek tangan august, dan benar dugaannya, beberapa sayatan yang mengukir kata-kata useless, tertempel dengan simbahan darah August. Niall menatap mata August perlahan.

“why you do this” ucap Niall, menrangkul August, dalam pelukan yang kencag, August masih menagis dalam isakannya, suara ambulans meraung dari luar. August keluar dengan balutan jaket tebal, dengan digendong oleh Liam. Yang lain terdiam menatap Liam membopong tubuh August yang tidak berdaya.

“he really doesn’t have any heart for doing this to that poor girl” ucap Zayn menatap adik kecilnya itu dibawa dengan ambulans. Niall hanya terdiam mendengar itu, dia tidak menyadari ada tangisan yang keluar dalan kediaman itu.

“we really need to going to Indonesia now, she need to be in her family side” ucap Niall, terdiam. Semuanya menatap Niall lurus, dang mengangguk, liburan mereka yang direncanakan di eropa, diubah jadwal menjadi di Indonesia, tempat dimana August akan melaksanakan langsung 3 konser di berbeda kota.

***